Palu, 4 Januari 2009
Salah satu wujud terselenggaranya penjaminan mutu diperguruan tinggi dengan baik adalah adanya proses layanan akademik yang mudah, murah, cepat dan tepat. Dalam kerangka penjaminan mutu tersebut, dibutuhkan upaya dan komitmen secara kontinyu dari seluruh komponen Dosen dan pegawai Administrasi yang membidangi akademik secara bersama-sama untuk melaksanakan layanan akademik bagi mahasiswa secara optimal.Sebagai upaya untuk memaksimalkan layanan pendidikan secara tertib dan bertanggung jawab, Universitas Tadulako selama 4 hari mengadakan Lokakarya Peningkatan Mutu Layanan Bimbingan Akademik bagi mahasiswa Untad, di kampus Bumi Tadulako Tondo.
Lokakarya yang diikuti 140 Dosen yang dibagi dalam dua tahap tersebut,antara lain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dosen dalam mengoptimalkan fungsi perwalian bagi mahasiswa, dan untuk menyamakan persepsi dosen tentang proses dan prosedur perwalian mahasiswa mendukung keberhasilan belajar di Perguruan Tinggi. Selain itu,dengan kegiatan tersebut,dapat menyamakan persepsi tentang prosedur dan tata kelola layanan akademik di Untad, serta meningkatkan akuntabilitas layanan akademik dilingkungan Untad.
Lokakarya Tahap II yang dimulai Rabu, 4 Januari 2009, diikuti 70 orang peserta dari empat fakultas, masing-masing Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Sementara untuk tahap I, telah dilaksanakan selama dua hari yang diikuti 70 orang peserta dari tiga fakultas, masing-masing Fakultas Pertanian, FISIP dan FKIP
Rektor Universitas Tadulako yang diwakili Pembantu Rektor II, Drs. H.Arsyad Mardani, MP ketika membuka acara lokakarya ini menegaskan komitmen Universitas Tadulako untuk menerapkan sanksi Drop Out (DO) bagi mahasiswa di tujuh fakultas yang telah melampaui batas perkuliahan yang telah ditentukan.
Menurut Arsyad, terlambatnya mahasiswa menyelesaikan studinya, antara lain disebabkan tidak adanya perwalian yang baik dari dosen. "Jadi dosen memiliki andil besar terhadap tertundanya perkuliahan mahasiswa, yang pada akhirnya mengakibatkan mahasiswa dikenai sanksi DO", ujar Purek II Untad ini.Oleh karna itu katanya dengan lokakarya ini dapat melahirkan acuan yang sangat bermanfaat bagi dosen dalam melakukan pembimbingan.Dosen juga dituntut untuk selalu bertugas dengan sungguh-sungguh dan penu rasa tanggung jawab.
Arsyad Mardani juga menghimbau kepada seluruh Pimpinan Fakultas (dekan), agar selalu memantau setiap dosen yang melaksanakan tugas belajar mengajar dan pembimbingan. Jika ada dosen yang tidak melaksanakan tugas dengan baik,diharapkan para dekan dan ketua jurusan/program studi untuk mengambil tindakan, karena masa depan mahasiswa terutama yang berkaitan dengan kualitas luaran, sangat tergantung dipundak dosen.
Pembantu Rektor I, Prof.Dr.Hj.Dahlia Syuaib, SH, MA, selaku penanggung jawab lokakarya ini dalam sajian materinya mengungkapkan, Universitas Tadulako dengan segala kemampuannya yang telah dicapai, bertekad meningkatkan daya saing dengan berupaya menghasilkan lulusan yang bermutu dan relevan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, sebagai penyelenggara pendidikan tinggi, Untad tetap memposisikan mahasiswa sebagai pelanggan utama. Oleh karnanya kata Dahlia, kepuasan mahasiswa dan orangtuanya yang mempercayakan putera-puterinya pada untad,menjadi orientasi dan perhatian utama pelayanan dalam mendayagunakan berbagai sumber daya yang dimiliki.
Demikian pula dalam pertumbuhannya, Untad senantiasa berupaya menciptakan iklim kerja yang kondusif agar unit-unit kerja dapat mengembangkan kreatifitas dan melakukan kegiatan secara optimal serta berjalan secara efektif dan efisien. Beberapa poin yang perlu kita anut kata Dahlia, yakni kesadaran dan komitmen yang tinggi akan pentingnya mutu, perbaikan kualitas harus di lakukan secara terus-menerus, etos kerja dengan penuh pengabdian,kecerdasan dan sistem kerja yang teratur, dan kedisiplinan tinggi senantiasa dijadikan perangai.
Selain Prof,Dahlia, beberapa pakar pendidikan juga hadir dalam menyampaikan materi lokakarya antara lain, Prof.H Tjatjo Thaha, MS, Dr.Asep Mahfudz, Drs. H Mansyur Thalib, MPd dan Ismail Rauf SE, MSi
